Selasa, 22 September 2015

AkzoNobel dan Dulux Persembahkan 'Monarch Gold’ sebagai Colour of the Year 2016




LIPUTANSATU.COM, London, 15 September 2015 – AkzoNobel, perusahaan cat dan pelapis terkemuka di dunia melalui salah satu brand unggulannya, Dulux memilih warna ‘Monarch Gold’ sebagai Colour of The Year 2016 yang merupakan bagian panduan tahunan Dulux untuk tren desain global. Pada acara peluncuran di Somerset House, London pada hari ini, para ahli desain dan wartawan internasional disuguhi pemikiran di balik pemilihan tren warna terbaru untuk tahun depan. 

Warna emas dan keemasan tampil dalam berbagai media dan digunakan berulangkali, tidak hanya pada pameran desain dan desain grafis, tetapi juga dunia arsitektur, fashion, kecantikan, dan dekorasi interior. Tidak berlebihan bila dikatakan warna ini menjadi  idola para pelaku dunia desain global.

Tahun ini, kita dihadapkan realitas menarik, di mana kita hidup di persimpangan zaman, persilangan antara masa lalu dan masa depan, perpaduan tradisi dan inovasi modern. Mengulas pendapat dan pandangan yang berlawanan menjadi hal yang sangat penting dan menarik untuk dilakukan. Kontradiksi ini diidentifikasi sempurna oleh warna emas yang mengikat seluruh tren 2016 dalam satu tema: Melihat ke Dua Sisi (Looking Both Ways).

Tema dualitas ini diwakilkan oleh “Monarch Gold”, memiliki nuansa cukup terang untuk menarik perhatian, namun tetap selaras dikombinasikan dengan warna lain. Warna ini mengingatkan akan pesona masa lalu serta mendeskripsikan keindahan warna-warna bumi. Inilah ‘Golden Hour’ dalam warna, transisi gelap dan terang; nuansa yang tampil di lukisan para empu di masa lalu (warisan) maupun seniman modern (masa depan). Warna yang memadukan masa lalu, maka kini dan masa depan kita.

Trend warna ini merupakan hasil dari studi yang dilakukan oleh AkzoNobel secara berturut-turut selama 13 tahun tentang tren desain global, yang dikenal sebagai ColourFuturesTM. Setiap tahun, AkzoNobel Global Aesthetic Center mempertemukan Analogue Group, yakni sekelompok pakar ternama di bidang desain dan warna untuk membahas apa yang mereka percaya akan menjadi perkembangan utama di dunia pada tahun-tahun mendatang, berdasarkan tren sosial dan desain global.

Mewakili berbagai bidang di dunia, para ahli tersebut mampu menarik banyak sumber, mulai dari seni rupa hingga teknologi, desain hingga alam, arsitektur hingga fashion, serta musik dan budaya populer, dalam rangka memberikan wawasan kepada industri desain tentang tren terbaru di tahun mendatang.

Setiap tahun, ColourFuturesTM menampilkan kekuatan pendorong yang mendukung semua tren ini secara bersamaan yang akhirnya disimpulkan menjadi Colour of the Year. Untuk tahun 2016, selain ‘Monarch Gold’ yang dinominasikan sebagai Colour of the Year, dualitas ‘melihat kedua sisi’ juga terdapat pada empat tren utama, yaitu:
1.      Heritage & Future
‘Dengan melihat masa lalu, kita dapat merancang masa depan’
Tren ini meletakkan dasar-dasar identitas kita. Mengambil inspirasi dari masa lalu, menunjukkan dasar-dasar identitas, dan meraih keyakinan untuk melangkah maju. Referensi dari sejarah di zaman dahulu mungkin berlawanan atau malah mendukung zaman modern. Selain itu, dengan menghargai sejarah, kita membangun nilai-nilai, sekaligus melengkapi karakter kita, sehingga lebih siap merancang masa depan. Diterjemahkan ke dalam palet warna, kita melihat warna merah mewakili warisan yang kaya, serta nuansa kontemporer cerah yang mengacu ke masa depan.

2.      Words & Pictures
‘Ada kekuatan baru dalam grafis dan pernyataan’
Kita hidup di zaman kejenuhan visual, di mana setiap gerakan dicatat dan dibagikan ke media sosial. Akibatnya, kita lebih sering melihat kuantitas daripada kualitas, sehingga satu kata menjadi tidak penting karena digunakan berlebihan. Kini, kita menemukan kekuatan baru dalam kata yang digunakan dalam konteks tepat. Penggunaan huruf juga terlihat dalam desain interior dan arsitektur tetapi bukan kata dan gambar yang saling berlawanan, melainkan saling melengkapi satu dengan yang lain. Tren ini tampil dalam palet warna biru tinta dan abu-abu grafit, yang kontras dengan nuansa warna seputar ponsel pintar dan fitur media sosial.

3.      Dark & Light
‘Kita sudah cukup lama terobsesi pada cahaya, tapi kini sadar bahwa kita juga membutuhkan gelap untuk hidup sehat dan tenang’
Salah satu tren kunci untuk 2016 adalah menghargai gelap. Kampanye Earth Hour - di mana jutaan orang di seluruh dunia mematikan lampu pada hari yang sama, menunjukkan hebatnya polusi cahaya mempengaruhi kita semua. Penelitian membuktikan betapa pentingnya memiliki tidur tenang dan berkualitas, tanpa dipengaruhi oleh gangguan cahaya. Ini bukan hanya tentang manusia; penelitian juga menunjukkan bahwa polusi cahaya dapat mempengaruhi aktivitas biologis tanaman dan satwa liar nokturnal. Sama seperti saat kita membutuhkan gelap agar dapat melihat bintang-bintang di langit, para seniman Belanda abad ke-17 menunjukkan teknik mereka dalam menangkap kilau dan permainan cahaya yang terbaik, yakni digambarkan kontras dengan warna gelap. Banyak warna dalam palet ini mampu berbaur dengan halus, yang mengingatkan kita pada ‘golden hour’ saat suasana senja dan fajar.

4.      The Grid & Letting Go
'Gaya hidup perkotaan merindukan kekacauan yang terkendali’ 
Kita sering menemukan godaan untuk ‘lepas kendali’ agar bisa menjadi seseorang di era dunia modern. Tapi tidak mungkin kita berbicara tentang kembali bebas dan hidup di luar garis tanpa kerangka acuan. Kita perlu batas-batas di mana bisa hidup, bahkan meski kita berusaha untuk melawannya; kebebasan hanya bisa dipahami dalam konteks kerangka. Oleh karena itu, warna dalam palet ini adalah warna-warna yang hidup dan ceria, namun tetap dibatasi oleh warna hitam dan putih.

Warna dan desain adalah bagian penting dari bisnis AkzoNobel, di mana divisi cat dekoratif mewakili 27 persen dari total pendapatan perusahaan pada tahun 2014. ColourFuturesTM juga merupakan salah satu conton dari inisiatif Kota Humanis dari AkzoNobel, di mana perusahaan memanfaatkan keahliannya untuk membuat kehidupan kota menjadi lebih berenergi, inspiratif dan bersemangat bagi orang-orang di seluruh dunia. Program ini bertujuan untuk membantu masyarakat, agar kota dan warganya terhubung secara emosional, dan fokus pada enam pilar - warna, warisan, transportasi, olahraga, pendidikan dan sustainability.

Mengomentari peluncuran Colour of the Year 2016 dan ColourFuturesTM 2016, Ruud Joosten, anggota Komite Eksekutif AkzoNobel Decorative Paints mengatakan, "Warna merupakan bagian integral dari bisnis kami - kami mempelajari warna dan desain tren global karena kami ingin berada di ujung tombak keinginan konsumen. Produk AkzoNobel yang penuh warna dapat ditemukan di tempat-tempat yang tidak terduga; mulai dari cat dekoratif di rumah-rumah penduduk, hingga cat pelapis yang melindungi bangunan global yang ikonik dan membuat mobil Formula 1 melaju lebih cepat.”

"Kami ingin berbagi pengetahuan tentang warna dengan orang-orang di seluruh dunia, sehingga setiap orang dapat terinspirasi dan mendapatkan manfaat dari kekuatan transformasi warna dalam kehidupan ", tambah Ruud.

Untuk informasi lebih lanjut tentang ColourFuturesTM, silahkan kunjungi www.ColourFutures.com.

******
Tentang AkzoNobel
AkzoNobel adalah perusahaan cat dan pelapis, serta produsen utama bahan kimia khusus terkemuka di dunia. Dengan para ahli yang handal, kami menyediakan industri dan konsumen di seluruh dunia dengan produk-produk inovatif dan teknologi ramah lingkungan yang dirancang untuk memenuhi tuntutan dari planet kita yang berkembang dengan sangat cepat. Berkantor pusat di Amsterdam, Belanda, kami mempunyai 47,000 staf di 80 negara di dunia, dengan portofolio mencakup merek-merek terkenal seperti Dulux, Sikkens, International dan Eka. Sebagai pemimpin di bidang keberlanjutan kami berkomitmen untuk membuat hidup semakin  berwarna dan kota yang lebih humanis.

Rabu, 16 September 2015

Dr. Georg Witschel Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Federal Jerman untuk Republik Indonesia, Timor Leste dan ASEAN



 

Dr. Georg Witschel

Sejak Oktober 2012 Duta Besar Jerman di Jakarta
2009 – 2012Duta Besar Jerman di Ottawa
2006 – 2009
Direktur Jenderal Hukum pada Kementrian Luar Negeri Jerman,
dan penasehat Hukum Internasional pemerintah Jerman
2002 – 2006
Utusan pemerintah Jerman dalam mengatasi terorisme
internasional, Kementerian Luar Negeri Jerman, Berlin
2001 – 2002
Direktur Urusan Utama Perserikatan Bangsa – Bangsa, Dewan Keamanan,
penjagaan serta penciptaan perdamaian, Kementerian Luar Negeri, Berlin
1998 – 2001
Wakil Kepala Bidang Politik dan Hukum pada Perwakilan Tetap
Jerman untuk Perserikatan Bangsa – Bangsa, New York
1995 – 1998Wakil Direktur Personalia bagi Pejabat Tinggi Kementrian Luar Negeri Jerman, Berlin
1992 – 1995
Wakil Duta Besar dan Kepala Bagian Ekonomi pada Kedutaan Besar Jerman di Laibach, Slovenia
1989 – 1992Penasihat Bidang Politik pada Kedutaan Besar Jerman di Tel Aviv, Israel
1986 – 1989Bagian Hukum Internasional Kementrian Luar Negeri Jerman, Bonn
1985 – 1986Bagian Politik Luar Negeri, Sekretariat Negara, Bonn
1983 – 1985Bagian Pelatihan dan Pendidikan Kementrian Luar Negeri Jerman, Bonn
1973 – 1982Kuliah hukum di Erlangen, Ujian Negara Pertama dan Kedua,

Doktor di bidang Hukum Internasional, Praktek-praktek kerja,
keikutsertaan pada kursus-kursus Hukum Internasional dan
Bahasa dll. di Jenewa, Lima, Salamanca dan Den Haag
1972 – 1973Wajib Militer
1960 – 1973Sekolah Dasar dan Lanjutan di Nürnberg

Lahir 1954, menikah, 1 Anak
Kemampuan berbahasa: Jerman, Inggris, Perancis, Spanyol
Menulis banyak karya dalam bidang- bidang Hukum Internasional, Perlucutan senjata, penanggulangan dan pemberantasan Terorisme serta persoalan ekonomi khususnya bagi negara Slovenia

Sumber:  http://www.jakarta.diplo.de/Vertretung/jakarta/id/Startseite.html

AMAZING DAN LUAR BIASA: Raja Salman Santuni Keluarga Korban Jatuhnya Crane Perorang 3,8 Milyar dan Naik Haji Gratis

safe_image.php

LIPUTANSATU.COM - RAJA Salman bin Abdul Aziz memerintahkan langsung pencairan dana bantuan sebesar 1 juta riyal saudi (3,8 M) untuk setiap korban wafat dan luka parah dengan cacat permanen pada peristiwa jatuhnya crane di Masjidil Haram (11/09/2015). Selain itu, ia pun memberikan tunjangan sebesar 500 ribu riyal saudi atau Rp 1,9 Milyar untuk setiap korban terluka.

Raja Salman mempersilahkan kepada para korban dan keluarganya untuk mengajukan tuntutan perkara atas kejadian tersebut dan menyediakan pengadilan adhoc khusus untuk itu. Ia juga mengundang dua orang kerabat untuk setiap korban wafat dari luar Saudi untuk pergi haji pada tahun depan (1437 H) lewat jalur khusus ‘undangan raja’. Sedangkan untuk para korban luka yang tidak bisa menunaikan ibadah haji tahun ini, diperbolehkan untuk kembali menunaikannya tahun depan, juga lewat jalur ‘undangan raja’.

Bagi korban yang terpaksa dirawat di rumah sakit-rumah sakit Saudi dalam jangka waktu lama, Raja mengeluarkan visa besuk bagi keluarga mereka untuk menjenguknya.
Selain itu, Raja Salman juga telah menelaah laporan pansus (panitia khusus) yang ia bentuk untuk menyelidiki peristiwa jatuhnya crane.

 Laporan menyebutkan penyebab teknisnya adalah ketidakmampuan crane untuk menahan tekanan badai saat besi-besi utama penyangganya dicopot karena crane sedang dalam kondisi off

Hal itu dianggap menyalahi standar prosedur operasional. Laporan pun menilai kontraktor tidak melaksanakan standar keselamatan kerja dengan baik karena tidak berkomunikasi dengan BMG Saudi tentang kondisi cuaca yang memburuk dan tidak memasang alat pengukur kecetapan angin pada crane di lokasi proyek.

Laporan tersebut juga mengisyaratkan akan mengevaluasi kontrak proyek penyedia crane (Kansas Co.), menginspeksi semua crane yang saat ini masih digunakan dari aspek keamanan dan keselamatan kerja.

Raja Salman menindaklanjuti laporan pansus dengan memerintahkan pencekalan Insinyur sipil Bakr bin Muhammad bin Ladin, seluruh jajaran direksi Bin Ladin Co., dan semua pihak yang terkait peristiwa kelam itu untuk bepergian ke luar negeri serta melarang perusahan konstruksi terbesar di Timur Tengah itu untuk ikut tender-tender baru.

Semua sanksi untuk Bin Ladin Co. tidak akan diangkat sampai penyelidikan mendalam atas kasus ini tuntas dan konsekuensi hukum atas peristiwa itu ditetapkan. Raja Salman pun memerintahkan Kementerian Keuangan dan dinas terkait untuk mengevaluasi semua proyek pemerintah yang tengah digarap oleh Bin Ladin Co. dan memberi mereka wewenang untuk menghentikan proyek-proyek tersebut jika tidak memenuhi standar keamanan dan keselamatan kerja. [irfan/islampos]

Sumber: https://www.islampos.com/raja-salman-santuni-keluarga-korban-jatuhnya-crane-perorang-38-milyar-dan-naik-haji-gratis-2-213433/

Senin, 14 September 2015

Akan Longgarkan Penjualan Bir, Fahira akan Temui Tom Lembong



Jakarta, 14 September 2015—Rencana Kementerian Perdagangan (Kemendag) merelaksasi Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen Dagri) No. 04/PDN/PER/4/2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A, menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat. Pasalnya, aturan baru ini nantinya akan memberikan keleluasaan kepada kepala daerah untuk menentukan lokasi mana saja yang diperbolehkan menjual miras jenis bir di daerahnya masing-masing sehingga dikhawatirkan akan membuat penjualan miras kembali marak.

Wakil Ketua Komite III DPD yang juga Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM) Fahira Idris mengatakan, berniat akan menemui Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong untuk menanyakan secara langsung terkait rencana melonggarkan penjualan bir dan sejenisnya di seluruh Indonesia.

“Rencananya pekan depan kita akan temui Pak Mendag, menanyakan soal relaksasi aturan ini. Prinsipnya kita mau memastikan, apapun kebijakan Mendag terkait penjualan miras jangan sampai menimbulkan keresahan di masyarakat. Relaksasi aturan penjualan miras harus mendukung Permendag 06/2015, di mana minimarket dan toko pengecer diharamkan menjual miras jenis apapun di seluruh Indonesia,” tukas Fahira, di Jakarta (14/9).

Fahira mengungkapkan, dirinya dihujani ratusan email dan SMS dari masyarakat yang khawatir atas rencana pelonggaran aturan penjualan miras ini. Kekhawatiran terbesar mereka adalah miras akan kembali mudah ditemukan di permukiman dan lingkungan tempat mereka tinggal akibat kebijakan ini.

Menurut Fahira,  Permendag No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Perdagangan No.20/M-DAG/PER/4/2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol sebenarnya sudah cukup longgar. Sebab, masih memperbolehkan supermarket/minimarket termasuk kafe-kafe maupun hotel menjual miras dengan syarat mempunyai Surat Keterangan Penjual Minuman Golongan A (SKP-A)/Surat Keterangan Penjual Langsung Minuman Golongan A (SKPL-A) dan mematuhi berbagai ketentuan dalam Permendag. Kelonggaran ini ditambah lagi dengan aturan Dirjen Dagri No. 04/2015 tentang penjualan minuman beralkohol golongan A, yang membolehkan penjualan bir di kawasan wisata.

“Mau diperlonggar seperti apa lagi? Yang harus diingat itu, ada 10 tempat yang diharamkan menjual miras sesuai Permendag yaitu berdekatan dengan perumahan, tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, terminal, stasiun, gelanggang remaja/olah raga, kaki lima, kios-kios, penginapan remaja/bumi perkemahan. Makanya, kami mau kawal dan pastikan jangan sampai rencana relaksasi ini membuka celah penjualan miras di 10 lokasi ini,” tegas Fahira.

Jikapun nanti aturan relaksasi ini memang memberi kewenangan kepada kepala daerah untuk menentukan lokasi mana saja yang diperbolehkan menjual bir dan sejenisnya, lanjut Fahira, Kemendag harus memastikan tidak ada lokasi penjualan miras di 10 tempat yang dilarang; Penjual melakukan pemeriksaan terhadap kartu identitas terhadap setiap pembeli untuk memenuhi persyaratan batas usia pembeli di atas 21 tahun;  Tidak melayani pembelian produk miras kepada orang yang terlihat telah mengonsumsi miras secara berlebihan atau terlihat sudah mabuk; Tidak melakukan promosi penjualan miras yang dapat mendorong konsumsi miras secara berlebihan; dan tidak merangkap selaku pengecer dan penjual langsung pada saat yang bersamaan.

Selain itu, bagi daerah yang sudah mempunyai Perda Miras atau Perda Anti Miras, yang memang sudah melarang penjualan miras, aturan pelonggaran penjualan miras ini tidak berlaku. Relaksasi aturan penjualan miras ini juga, tambah Fahira, tidak boleh bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi yaitu Permendag.

“Kalau bertentangan, kemungkinan kami akan gugat. Saya juga mau ingatkan komitmen Pak Jokowi saat menutup Kongres Umat Islam Indonesia, Februari 2015 lalu yang menyatakan bahwa tidak masalah negara kehilangan trilyunan rupiah karena pelarangan penjualan miras di minimarket dan toko pengecer yang ada di sekitar permukiman. Karena jika dibiarkan (miras dijual bebas) kerugian yang akan ditanggung negara ini lebih besar. Makanya aneh, kalau rencana relaksasi ini merupakan salah satu yang masuk dalam Peket Kebijakan Ekonomi yang dikeluarkan pemerintah pada 9 September lalu,” tutup Fahira.

I sent my first letter to President Obama


The White House, Washington
All week long, real Americans who have written the President are sharing where they are in their education journeys -- and offering their advice to their fellow Americans. If you want to write the President yourself, you can do so here.
I was a senior at Jefferson Forest High School when I sent my first letter to President Obama.
Jefferson Forest is a small high school in Forest, Virginia -- a small town that no one really knows about. My mother is divorced and single. I am the youngest of four; my three older siblings were all in college. My mother has sacrificed everything to put us through college. Working part time jobs, late nights, even moving from California to Virginia for a better job where the standard of living seemed much more affordable.
You see, it has been my dream since I could remember to become an equine veterinarian. My mother wants more than anything to see my dream become a reality, because she wants me to succeed without the struggles that she's experienced; to have a better place in the world than she's ever had.
I realize that wanting to specialize in equine dentistry (yes, dentistry -- many people laugh when I say this but I just smile) means I will probably be in college for ten years. I have always wondered, WHY? If critics say America needs more jobs, then why is getting a college education so expensive that starting down many career paths seems impossible?
My mother always tells me "the sky is not the limit, for there is the moon and there are the stars beyond it." So I kept up my grades and relentlessly applied to as many scholarships as I could. The reason I felt compelled to write to President Obama was to say: I want to be one less child, one less financial burden, my mother needs to worry about affording a college education for.
One morning I was talking to a chemistry teacher about my frustrations -- the National Decision Deadline was fast approaching, and I had not committed to any of my four choices because I could not afford tuition. She mentioned that Randolph College in Lynchburg, Virginia was offering a grant called LEAP (Local Educational Access Program) for Region 2000 students from the Commonwealth of Virginia -- where tuition is guaranteed to be no more than $10,000, and that is before financial aid through the FAFSA, which I completed back in January.
(By the way, you can learn how much aid you’re eligible for right now.)
Immediately, I knew this was the answer to my worries. I called the Office of Admissions to ask if they were still accepting applications and the admissions counselor personally worked with me to submit my application as fast as possible. I hand-delivered my transcripts and letters of recommendation the next day to Randolph College. I then sat and watched as my application was reviewed. In less than two minutes I was accepted into Randolph College. Instantly, I felt a giant weight lift off my shoulders. That Saturday, my mother and I attended the open house to tour the campus and assess my financial aid package. We finalized my slot as a freshman in the fall by paying the deposit. Out of nowhere, the President of Randolph College, Mr. Bradley Bateman, appeared to shake my hand, saying he "…wanted to be the first to shake a new Wildcat’s hand in congratulations."
I am so relieved that I know where I belong now. I plan to major in biology as part of the pre-veterinary medicine track and possibly double minor in equine studies and chemistry. Classes started August 31st and I already have a busy schedule. This week I attended my calculus, French, movie science, chemistry lecture and lab, and equine studies classes. I will always be searching and applying for scholarships because I still have to pay for next semester and some of my outside scholarships only cover first semester costs. I also have to worry about paying for the next three years of my education myself. Once I graduate, I will have to start worrying about paying off my unsubsidized and subsidized loans, as well.
This is my advice for students who are looking into college, but think they can't afford it:
Don't just fill out the FAFSA -- research local colleges to see if they have any grant programs that can help you cover costs. Call the college to explain your financial situation. Search for scholarships. High schools' guidance offices should have information on many scholarships and there are a plethora of websites where it pools together scholarships that match your criteria. The best way to receive scholarships is to keep up with your academics and be involved in the community; it will benefit you as an individual and as a scholar in the long run.
As my mother always says: "Make good decisions."
Sincerely,
Marie
Marie Abowd
Forest, Virginia

Kamis, 10 September 2015

Castrol MAGNATEC Stop-Start Family Funcity


LIPUTANSATU.COM - Padatnya aktifitas anggota keluarga dan tingginya angka kemacetan di perkotaan membuat orang tua harus berpikir kreatif untuk menggantikan quality time keluarga. Dalam kondisi macet, mobil pun dapat menjadi sarana membangun kebersamaan keluarga.  

Saat menghadapi kemacetan, sebenarnya mesin mobil butuh perlindungan yang tepat. Menyadari hal tersebut Castrol menghadirkan Castrol MAGNATEC Stop-Start Family Fest. Melalui kegiatan ini Castrol ingin membangun kebersamaan keluarga dan menjadi sarana edukasi keluarga untuk mengenal lebih jauh perlindungan yang tepat bagi mesin mobil.

Berkaitan dengan hal tersebut Castrol akan mengadakan "Castrol MAGNATEC Stop-Start Family Fest" yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 12 September 2015 di Jakarta. Adapun pembicara yang akan hadir dalam acara ini yaitu:
    1. Castrol Country Marketing Manager, Deananda Sudijono
    2.  Psikolog Keluarga, Rosalina Verauli,
    3Mechanic Expert

Acara akan dipandu oleh Ersa Mayori. Demikian penjelasan Suharjo Nugroho selaku Managing Director
Imogen PR menyampaikan kepada LIPUTANSATU.COM.




Kebijakan Stimulus Ekonomi Sektor ESDM


KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS
NOMOR: 58/SJI/2015
Tanggal: 10 September 2015

Kebijakan Stimulus Ekonomi Sektor ESDM
 
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said pada hari ini Kamis (10/9) mengumumkan adanya kebijakan stimulus ekonomi sektor ESDM melalui deregulasi dan rencana regulasi baru yang  bertujuan untuk: Melakukan penyederhanaan ijin sektor energi, Mempermudah pelaksanaan investasi sektor energi, Mempercepat pelaksanaan proyek-proyek strategis, dan memberi kepastian hukum.

“Seluruh paket Regulasi ini dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menjamin kepastian hukum, memudahkan investasi, menggerakan sektor riil dan memperkuat industri riil,” tegas Menteri ESDM.

Dalam hal penyederhanaan perizinan sektor ESDM, saat ini lebih dari 60% perizinan dipangkas dalam 6 bulan terakhir. Pada tahun 2014 total perizinan yang dikelola oleh Kementerian ESDM sebanyak 218 perizinan, sejak awal tahun 2015 telah disederhanakan menjadi 89 perizinan, dimana 63 perizinan telah dilimpahkan ke Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) BKPM, sehingga tinggal 26 perizinan yang dikelola oleh Kementerian ESDM. Penyederhanaan ijin sektor ESDM ini akan terus dilakukan  untuk memudahkan pelaksanaan investasi.

Adapun paket regulasi sektor ESDM diantaranya adalah mengenai Penyediaan Pendistribusian Dan Penetapan Harga LPG Untuk Kapal Perikanan Nelayan Kecil; Penyediaan, Pendistribusian Dan Penetapan Harga BBG Untuk Transportasi Jalan; Tata Kelola Gas Bumi; Regulasi mengenai Pembangunan Dan Pengembangan Kilang Minyak Di Dalam Negeri; Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu Dalam Kegiatan Usaha Hulu Migas.

Regulasi mengenai Penyediaan Pendistribusian Dan Penetapan Harga LPG Untuk Kapal Perikanan Nelayan Kecil akan mengatur sasaran penyediaan dan pendistribusian LPG untuk Kapal Perikanan Nelayan Kecil yang menggunakan mesin motor tempel dan/ atau mesin dalam yang beroperasi harian. Regulasi ini diharapkan membantu nelayan kecil mengurangi beban biaya dan kemudahan untuk mendapatkan bahan bakar dalam operasi penangkapan ikan dengan mengganti dari BBM ke LPG.

“Diperkirakan penggunaan LPG akan menghemat sekitar 65% dibandingkan dengan penggunaan BBM atau setara dengan Rp 100.400 per hari,” ujar Menteri ESDM.

Regulasi mengenai Penyediaan, Pendistribusian Dan Penetapan Harga BBG Untuk Transportasi Jalan akan mengatur adanya paket bantuan converter kit kepada angkutan umum, kendaraan dinas, dan kendaraan tertentu yang semula berbahan bakar bensin menjadi CNG. Penggunaan CNG membantu mengurangi biaya bahan bakar bagi angkutan umum, karena harganya relatif lebih murah dan ramah lingkungan. Regulasi ini direncanakan menggantikan Perpres Nomor 64 Tahun 2012 mengenai Penyediaan, Pendistribusian, Dan Penetapan Harga BBG untuk Transportasi Jalan.

Regulasi mengenai Tata Kelola Gas Bumi akan mengatur penyediaan, pendistribusian, dan pemanfaatan gas bumi. Regulasi ini direncanakan sebagai pengganti Permen ESDM Nomor 19 Tahun 2009 mengenai Kegiatan Usaha Gas Bumi Melalui Pipa dan Permen ESDM Nomor 03 Tahun 2010 mengenai Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi Untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri.

Regulasi mengenai Pembangunan Dan Pengembangan Kilang Minyak Di Dalam Negeri akan mengatur kemudahan untuk pembangunan kilang di dalam negeri dimana produknya khususnya BBM akan diserap di dalam negeri yang dapat mengurangi impor BBM. Disini Pertamina akan bertindak sebagai offtaker dari kilang minyak tersebut. Hal ini akan memberikan kepastian bagi investor dibidang kilang BBM. Adanya produk sampingan berupa petrokimia tentu akan memenuhi kebutuhan petrokimia di dalam negeri bagi para indutri berbahan baku petrokimia dan mengurangi impor petrokimia.

Regulasi mengenai Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu Dalam Kegiatan Usaha Hulu Migas akan mengatur penegasan otoritas pemerintah sebagai pemegang kuasa pertambangan untuk menetapkan kebijakan harga gas bumi yang dilakukan secara transparan, perlakuan yang sama, dan berkeadilan guna mempercepat pembangunan sektor hilir, termasuk industri pupuk dan petrokimia.

Khusus untuk sektor kelistrikan, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan bahwa pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW bukan hanya sekedar target pemenuhan kebutuhan listrik nasional, tetapi merupakan upaya mendorong kemampuan pemerintah dalam mempercepat pembangunan proyek infrastruktur skala besar baik sektor energi maupun lainnya, terutama dalam mengurai sumbatan (seperti perijinan dan pembebasan lahan), menarik investor, dan alih teknologi.
 Plt. Kepala Pusat Komunikasi Publik
                          


Hufron Asrofi

PENGUMUMAN LELANG PENAWARAN WILAYAH KERJA MIGAS KONVENSIONAL TAHUN 2015

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS
NOMOR: 57/SJI/2015   
Tanggal: 10 September 2015

PENGUMUMAN LELANG PENAWARAN WILAYAH KERJA MIGAS KONVENSIONAL TAHUN 2015
 
Dalam upaya meningkatkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang bertujuan meningkatkan produksi Minyak dan Gas Bumi nasional, pada hari ini, Kamis (10/9), Pemerintah melaksanakan Pengumuman Lelang Penawaran Wilayah Kerja Migas Konvensional Tahun 2015. Jumlah Wilayah Kerja yang ditawarkan adalah 8 (delapan) Wilayah Kerja, yang terdiri dari 2 (dua) Wilayah Kerja melalui mekanisme Penawaran Langsung dan 6 (enam) Wilayah Kerja melalui mekanisme Lelang Reguler. Wilayah kerja yang ditawarkan adalah sebagai berikut :
 
 AWilayah Kerja yang melalui mekanisme Penawaran Langsung :
 NO Wilayah KerjaLokasi
 1 Southwest BengaraOnshore Kalimantan Timur
 2 West BerauOffshore Papua Barat
   
 B Wilayah Kerja yang melalui mekanisme Lelang Reguler :
 NO Wilayah Kerja Lokasi
 1 Rupat Labuhan Offshore Riau & Sumatera Utara
 2 Nibung Onshore Riau & Jambi
 3 West Asri Offshore Lampung
 4 Oti Offshore Kalimantan Timur
 5 Manakara-Mamuju Offshore Sulawesi Barat
 6 Kasuri II Onshore Papua

Dalam proses Lelang Penawaran Wilayah Kerja Migas Konvensional Tahun 2015 ini akan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi metode E-Lelang (Lelang Elektronik). Aplikasi ini  dikembangkan  bersama   dengan   Pusat  Data dan  Informasi. Metode ini digunakan untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas lelang.
 
Jadwal Lelang adalah sebagai berikut :
Penawaran Langsung         :
Akses Bid Dokumen   :10 September 2015 s/d 14 Oktober 2015
Forum Klarifikasi        :14 September s/d 16 Oktober 2015
Pemasukan Dokumen Partisipasi    : 26 Oktober 2015

Lelang Reguler :
Akses Bid Dokumen : 10 September 2015 s/d 21 Desember 2015
Forum Klarifikasi      : 14 September s/d 23 Desember 2015
Pemasukan Dokumen Partisipasi 14 Januari 2016

Plt. Kepala Pusat Komunikasi Publik KESDM



Hufron Asrofi

Rabu, 09 September 2015

BMW Group produces 10 million BMW 3 Series Sedan




















BMW Group Plant Munich produces 10 millionth BMW 3 Series Sedan (09/2015)
Core model manufactured at four plants worldwide
Landmark vehicle made at BMW Group Plant Munich



LIPUTATANSATU.COM -Munich. The ten millionth BMW 3 Series Sedan has rolled off the production lines at BMW Group Plant Munich. The landmark vehicle is the latest milestone in the 40-year success story of the BMW 3 Series. So far the BMW Group has produced more than 14 million cars of this model series, more than half of them BMW 3 Series Sedans. Production of the new BMW 3 Series Sedan was launched just recently, in July of this year. The landmark ten millionth vehicle is a BMW 320d in Imperial Blue.

Hermann Bohrer, Plant Director at the BMW Group facility in Munich, commented: “The success story of the BMW 3 Series started here in Plant Munich and is now reaching a very special highpoint here as well. The fact that this landmark vehicle was produced at our plant is a particular honour for us and makes me very proud indeed of my team.”

As the only facility to have produced all six generations of the BMW 3 Series, BMW Group Plant Munich is seen as the leader for all the other facilities producing the same model series. To meet the many requirements of the various generations, the plant had to rise to new challenges each time. The constant modernisation and enhancement of production systems means today’s customers have a multitude of model variants and equipment options to choose from and can tailor their cars almost entirely to their personal specifications.

BMW Group Plant Munich currently produces 1,000 cars a day, half of them BMW 3 Series. To meet strong demand, the model series is also manufactured at Plants Regens-burg (Germany), Rosslyn (South Africa) and Tiexi (China).

A success story begins
In 1970 BMW Group developers began working on a new model series that would later become the most successful BMW. To this day each new generation of the BMW 3 Series has consistently fulfilled the same requirements, coupling everyday versatility with contemporary design and a sporty driving experience. After five years of development work, production of the international bestseller was finally launched in June 1975. Just a few years later the first variants were added to the range as well. With each new generation, the BMW 3 Series has led the way and established itself as the van-guard of its class.

If you have any queries, please contact
Corporate Communications
Sandra Schillmöller, Communications BMW Group Production Network
Phone: +49 89 382-12225, Fax: + 49 89 382-25878
sandra.schillmoeller@bmwgroup.com

Frank Wienstroth, Head of Communications BMW Group Production Network
Phone: +49 89 382-54459, Fax: +49 89 382-25878
Frank.Wienstroth@bmw.de

Media website: www.press.bmwgroup.com
Email: presse@bmw.de

The BMW Group
With its three brands BMW, MINI and Rolls-Royce, the BMW Group is the world’s leading premium manufacturer of automobiles and motorcycles and also provides premium financial and mobility services. As a global company, the BMW Group operates 30 production and assembly facilities in 14 countries and has a global sales network in more than 140 countries.

In 2014, the BMW Group sold approximately 2.118 million cars and 123,000 motorcycles worldwide. The profit before tax was € 8.71 billion on revenues amounting to € 80.40 billion. As of 31 December 2014, the BMW Group had a workforce of 116,324 employees.

The success of the BMW Group has always been based on long-term thinking and responsible action. The com-pany has therefore established ecological and social sustainability throughout the value chain, comprehensive product responsibility and a clear commitment to conserving resources as an integral part of its strategy.

www.bmwgroup.com
Facebook: http://www.facebook.com/BMWGroup
Twitter: http://twitter.com/BMWGroup
YouTube: http://www.youtube.com/BMWGroupview
Google+: http://googleplus.bmwgroup.com

If you have any questions regarding this press release, please contact:
BMW Group
Daniel Chan

Tel.: +65-6838-9639
Fax: +65-6838-9611
E-mail: daniel.chan@bmwasia.com

Pertamina Siap Terapkan Mandatory B-20 Tahun Depan Kebutuhan FAME Diproyeksikan 4,8 Juta KL

LIPUTANSATU.COM - JAKARTA PT Pertamina (Persero) memproyeksikan kebutuhan fatty acid methyl ester atau FAME untuk perusahaan tahun depan akan mencapai 4,8 juta KL atau setara dengan 24 juta KL Biosolar dengan kandungan 20%. 


Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan sejak 2009, Pertamina telah menyalurkan FAME ke seluruh Indonesia, yang semula hanya B-7,5 dengan volume yang terbatas, secara bertahap tumbuh signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014, total penyaluran FAME Pertamina sebesar 1,5 juta KL atau setara dengan 13,6 juta KL Biosolar, mencakup seluruh kebutuhan FAME PSO, NPSO, dan PLN.

Ahmad Bambang menjelaskan semula harga pembelian FAME oleh Pertamina kepada produsen mengacu pada harga indeks pasar (HIP) GasOil dengan formula yang ditetapkan pemerintah. Namun, seiring dengan turunnya harga minyak mentah dunia, harga pembelian FAME menjadi lebih murah dibandingkan HIP FAME riil, sehingga sempat menjadi kendala bagi pelaksanaan mandatory B-15 yang ditetapkan pemerintah untuk tahun ini.

“Peraturan Presiden No.61 tahun 2015 telah mengamanatkan pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit yang berperan membayar selisih antara harga beli Pertamina dengan HIP FAME. Regulasi baru tersebut telah menjadi solusi terbaik dan mendatangkan manfaat bagi semua pihak yang dibuktikan dengan pasokan FAME dari produsen berjalan cukup lancar saat ini,” kata Ahmad Bambang.

Dengan mandatory B-15, Pertamina memproyeksikan hingga akhir tahun dapat menyalurkan FAME sebanyak 830.000 KL atau setara dengan 5,5 juta KL Biosolar. FAME tersebut akan didistribusikan ke seluruh Indonesia melalui  31 kota utama.

Pada tahun 2016, sesuai dengan road map pemerintah telah menargetkan peningkatan kandungan FAME pada Biosolar menjadi 20% atau B-20. Untuk itu, urainya, Pertamina memproyeksikan akan menyalurkan FAME di seluruh Indonesia yang total volumenya sekitar 4,8 juta KL.

“Untuk periode 2016, penetapan suplier FAME akan dilakukan bersama tim gabungan yang dibentuk oleh pemerintah yang beranggotakan Direktorat Jendral EBTKE, Badan Usaha BBM dan BPDP Sawit. Prosesnya akan dilakukan dengan lelang terbuka, di mana perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Ditjen EBTKE dapat mengikuti proses pengadaan melalui lelang tersebut,” tuturnya.

Sementara itu, dari kesiapan sarana dan fasilitas untuk pelaksanaan mandatory, penyerapan biodiesel telah dapat dilaksanakan hampir di seluruh Terminal BBM Pertamina, dengan moda penyaluran darat dan sebagian TBBM telah juga disalurkan menggunakan moda penyaluran laut.

Pertamina dan WIKA Bersinergi Kembangkan Bisnis Aspal hybrid di Indonesia

LIPUTANSATU.COM - JAKARTA – PT Pertamina (Persero) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. hari ini menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk sinergi pengembangan bisnis aspal hybrid dengan grade tinggi di tengah pasar aspal yang terus tumbuh di Tanah Air seiring dengan laju pembangunan infrastruktur nasional.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi dan Direktur Utama WIKA Bintang Perbowo, di Kantor Pusat Pertamina di Jakarta, Rabu (9/9) dan disaksikan oleh Menteri BUMN Rini M. Soemarno, Menteri PU Basuki Hadimuljono, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto serta jajaran direksi kedua perusahaan.

“Sinergi antara Pertamina dan WIKA untuk pengembangan bisnis aspal sangat strategis, terutama bagi upaya pemenuhan kebutuhan aspal di dalam negeri. Dengan kerjasama ini, Pertamina selaku produsen aspal terbesar di Indonesia dan WIKA sebagai pelaku bisnis konstruksi terkemuka dapat saling memperkuat bisnis masing-masing perusahaan dan sekaligus mendukung pengembangan infrastruktur nasional,” terang Rachmad Hardadi.

Kebutuhan aspal di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang memerlukan dukungan kehandalan infrastruktur, seperti pembangunan jalan umum, jalan tol, bandara, dan infrastruktur lainnya. Dari kebutuhan aspal sekitar 1,2 juta ton per tahun, Pertamina kini memproduksi aspal sebanyak 300.000 ton per tahun yang diproduksi di RU IV Cilacap, dan selebihnya diperoleh dari impor baik oleh Pertamina maupun badan usaha lainnya.

Dengan kerjasama ini, kapasitas produksi aspal Pertamina akan meningkat menjadi 600.000 ton per tahun, dan dengan tambahan potensi aspal alam dari WIKA sebanyak 300.000 ton per tahun sehingga kapasitas produksi total aspal menjadi 900.000 ton per tahun dengan grade yang tinggi. Kapasitas tersebut setara dengan 75% kebutuhan aspal nasional, dengan demikian impor akan berkurang secara signifikan, dapat menghemat devisa negara, serta menimbulkan multiplier efek terhadap perekonomian nasional.

“Kami memiliki potensi pengolahan aspal alam di Pulau Buton. Kami optimistis dengan kerjasama strategis antara Pertamina dan WIKA untuk pengembangan aspal hybrid ini potensi tersebut akan dapat tergarap secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk proyek-proyek infrastruktur nasional yang ditangani oleh WIKA,” kata Bintang Perbowo.

MoU ini akan menjadi landasan bagi kedua Pertamina dan WIKA untuk melakukan kajian bersama (feasibility study) mengenai potensi kerjasama pengembangan bisnis aspal, diantaranya kajian aspek teknikal seperti desain pabrik, kajian operasional produksi hingga, komersial/keekonomian dan aspek lain yang terkait, untuk pada akhirnya akan membentuk joint venture (JV) pengolahan dan produksi aspal hybrid.

Adapun, produksi aspal hybrid tersebut direncanakan dilakukan di Cilacap. “Kerjasama ini akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional karena sejalan dengan program pemerintah untuk menggenjot pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Investasi yang nantinya akan ditanamkan untuk pengembangan aspal hybrid ini juga diharapkan dapat mendukung pengembangan ekonomi nasional dan lokal,” tutup Rachmad Hardadi.

German Cinema Festival Comes Back to Indonesia’s Screens



 LIPUTANSATU.COM - Already in its fourth edition this year, the German Cinema film festival     
 returns to Indonesian cinema screens from September 11 to 20, 2015.

Presenting the best of Germanys current film scene, this years selection features 17
internationally acclaimed and award-winning German film productions.

The festival will open on September 11 with Labyrinth of Lies” by director Giulio Ricciarelli, which premiered last September at the Toronto International Film Festival. The film is set in Germany in 1958 and tells the story of a young prosecutor who unravels a massive conspiracy to cover up the dark Nazi past of prominent public figures in the country.

Other highlights of the festival include the stunning documentary The Salt of the Earth by Wim Wenders and Juliano Ribeiro Salgado, the German box office hit Fack Juhte (“Suck me Shakespeer“); a comedy about a criminal who is forced to become a teacher; and As We Were Dreaming”, the latest film by Andreas Dresen, the German film director who is well-known for
his realistic style.

With a colorful cross-section of the German film landscape, the festival, which attracted more than 12 000 visitors, seeks to continously inspire Indonesian audiences and raise interest in German Cinema.

The festival shows that the contemporary German movie scene is continuously changing and has to offer a lot of exciting and fresh views, as the topics of the films range from family issues and love to religion and history.

All films are accessible to a wide audience through English subtitles. Screenings will be held across Indonesia, namely Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Surabaya, Denpasar and Medan.
This year, German Cinema is part of the German Season, a three-month festival that celebrates the friendship between Indonesia and Germany through a series of events. The German Season is an initiative of the Federal Foreign Office in Germany and is organized by the Goethe-Institut Indonesien, the German Embassy Jakarta and EKONID.

AT A GLANCE
German Cinema Festival
From September 11 to 20
Several cities across Indonesia
For full schedule and detailed film synopsis, visit www.goethe.de/germancinema or www.jermanfest.com


For press enquiries, please contact: Katrin Figge
Coordinator for Public Relations