Senin, 04 Februari 2013

Jangan pernah menyerah, meski negara tak mengenal kita. Tapi yakinlah disana masih ada Ibu Pertiwi

Jangan pernah menyerah, meski negara tak mengenal kita. Tapi yakinlah disana masih ada Ibu Pertiwi.

Minggu, 03 Februari 2013

Tragedi Berdarah 13 Desember Kota Tebing Tinggi

Sekilas, tidak ada yang penting di tanggal 13 Desember. Namun tidak demikian dengan seluruh masyarakat di kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Di tahun 1945 silam, di tanggal ini pernah terjadi pembantaian massal terhadap warga sipil Tebing Tinggi oleh pihak militer Jepang. Begitu membekasnya peristiwa ini dalam ingatan masyarakat kota Tebing Tinggi, hingga pada saat ini, tanggal 13 Desember menjadi moment khusus bagi seluruh masyarakat Tebing Tinggi untuk mengenang seluruh korban yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun satu hal yang sangat disayangkan, selain masyarakat Tebing Tinggi sendiri, tidak banyak orang yang mengetahui adanya tragedi 13 Desember ini. Selama 66 tahun sejak Indonesia menyatakan diri merdeka, seolah-olah ada satu upaya menutupi tragedi berdarah ini dari catatan sejarah.

Untuk mengangkat peristiwa berdarah yang mengarah pada kejahatan perang di kota Tebing Tinggi ini, Darapati Activity menggandeng pihak media untuk menelusuri kembali sejumlah informasi tentang runtut peristiwa ini. Dengan harapan dapat ikut memperjuangkan pelanggaran HAM terhadap warga sipil kota Tebing Tinggi oleh tentara Jepang, Darapati Activity menghimpun sejumlah narasumber peristiwa berdarah 13 Desember 1945 silam.
Dalam satu sesi wawancara di Rumah Dinasnya (12/12/2012), Ir. H. Umar Zunadi Hasibuan, MM, selaku Wali Kota Tebing Tinggi mengatakan bahwa pembantaian yang dilakukan oleh tentara Jepang memakan korban hingga ribuan masyarakat sipil. “Diperkirakan korbannya mencapai hingga 2000 orang lebih,” demikian ungkap beliau sebagai salah satu pemegang informasi peristiwa ini.
“Jumlah korbannya tidak bisa dipastikan, karena banyaknya makam massal, makan tanpa nama, dan jasad korban yang tidak dikenali asal usulnya dari mana,” jelas beliau.
Banyaknya korban yang jatuh di hari peristiwa tersebut tampak dari banyaknya kerangka manusia yang ditemukan di banyak tempat di kota Tebing Tinggi. Bahkan selang beberapa tahun setelah kejadian 13 Desember 1945 tersebut, di beberapa tempat banyak ditemukan kerangka manusia yang merupakan warga sipil kota Tebing Tinggi yang menjadi korban kekejaman tersebut. Dari penemuan tersebut dapat diketahui bahwa korban banyak yang ditumpuk dalam satu lubang dan dimakamkan secara asal.
Beliau juga menceritakan bahwa pembantaian ini dilakukan secara membabi buta. Dimana setiap warga sipil yang dijumpai di tiap sudut kota pada hari itu, akan langsung dibunuh oleh tentara Jepang. “Bahkan ada yang mati ditembak saat sedang makan siang di rumahnya,” ujar Ir. H. Umar Zunadi Hasibuan, MM.

******

Latar Belakang Peristiwa 13 Desember Kota Tebing Tinggi

Awalnya dimulai dengan jatuhnya Jepang oleh bom Sekutu di Nagasaki dan Hirosima pada awal Agustus 1945. Jepang yang pada saat itu menduduki Indonesia menyatakan menyerah pada Sekutu. Kekalahan Jepang atas Sekutu ini menjadi kesempatan bagi proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dinyatakan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Dua peristiwa besar ini juga ikut memunculkan semangat patriotisme rakyat Tebing Tinggi. Berita kekalahan Jepang yang secara resmi disampaikan Fukubusuncho (setingkat Bupati/ Walikota) pada tanggal 22 Agustus 1945 dan berita proklamasi kemerdekaan RI yang sampai di Tebing Tinggi pada tanggal 16 September 1945 menjadi semangat munculnya kesatuan-kesatuan pemuda di wilayah kota Tebing Tinggi dan daerah-daerah di sekitarnya.
Pasca tersebarnya kedua berita besar tersebut, muncul juga isu bahwa Belanda akan mencoba menjajah kembali dengan membonceng tentara Sekutu. Menanggapi isu tersebut, seluruh rakyat Tebing Tinggi ikut memperlengkapi diri menghadapi serangan Sekutu dengan melucuti senjata tentara Jepang yang sedang menunggu kepulangan ke negaranya. Sedang tentara Jepang sebagai pihak yang kalah perang, diwajibkan menyerahkan senjata mereka kepada Sekutu.
Keadaan ini kemudian menimbulkan ketegangan antara tentara Jepang dan rakyat Indonesia di Tebing Tinggi dalam merebut senjata. Menyikapi hal ini, Komando Tentara Jepang Mayjend. S. Sawamura mengadakan perundingan dengan pemerintah Tebing Tinggi saat itu. Namun karena perbedaan kepentingan, perundingan yang terjadi tanggal 3 November 1945 di markas tentara Jepang di Kebun Bahilang tersebut tidak memberikan hasil sepakat.

Illustrasi: napaktilas peringatan 13 desember tebing tinggi (12/12/12)
Merasa bahwa diplomasi tak dapat memberi jalan, maka pemuda/ rakyat Tebing Tinggi memutuskan merebut senjata secara paksa dari tentara Jepang. Dari situ kemudian muncul berbagai insiden perebutan senjata yang diwarnai dengan perkelahian antara pemuda dan tentara Jepang, bahkan berakhir dengan terbunuhnya tentara Jepang. Ketengangan terus meningkat hingga tentara Jepang tak berani berjalan sendiri di kota Tebing Tinggi, tanpa barisan lengkap.
Menyusul semakin meningkatnya insiden perebutan senjata, pada tanggal 12 Desember 1945 pihak Jepang kembali mengundang pimpinan pemerintahan Tebing Tinggi dalam perundingan. Namun, pemuda/ rakyat yang curiga dengan kegagalan perundingan tersebut segera melakukan persiapan perang menghadapi tentara Jepang dengan memblokir seluruh akses jalan kota Tebing Tinggi. Namun hingga pagi hari 13 Desember 1945, tak terlihat gerakan mencurigakan dari tentara Jepang, sehingga rakyat membuka seluruh blokade jalan dan para pemuda serta laskar meninggalkan pos-pos jaga mereka.
Dan setelah suluruh blokade dibuka, pada pukul 14.30 hari itu 13 Desember, tentara Jepang segera mengepung kota Tebing Tinggi. Dengan gerakan perang dan dilengkapi sejumlah tank, tentara Jepang masuk dan menyusuri jalan-jalan kota Tebing Tinggi yang kemudian melakukan pembantaian terhadap setiap warga Tebing Tinggi yang dijumpai hari itu.
Dalam satu sesi wawancara yang diadakan Darapati Activity di Tebing Tinggi (12/12/2012), Abdul Haliq (45), seorang staf pengajar sejarah Sekolah Tinggi Ilmu Karbiyah Tebing Tinggi, mengatakan bahwa penyerangan dan pembantaian tentara Jepang ini berlangsung selama 9 hari, dimulai tanggal 13 hingga 22 Desember 1945. “Ini jelas kejahatan perang, karena korban yang jatuh di pihak kita adalah rakyat sipil,” demikian juga ungkapnya.
Penyerangan secara tiba-tiba, ketidaksiapan, dan kekurangan senjata menyebabkan banyaknya korban yang jatuh di pihak pemuda/ rakyat Tebing Tinggi. Bahkan Abdul Haliq juga membenarkan jumlah korban yang jatuh diperkirakan mencapai 2000 orang, mengacu pada informasi dan data yang ia temukan setelah beberapa tahun belakangan menelusuri secara aktif sejarah peristiwa berdarah kota Tebing Tinggi ini.
**************************


Diplomasi Palsu, Peristiwa 13 Desember Kota Tebing Tinggi

Saat ketegangan terus meningkat, sejak berbulan-bulan sebelum tanggal 13 Desember 1945 di kota Tebing Tinggi, banyak terjadi insiden perebutan senjata oleh pemuda/ rakyat Tebing Tinggi terhadap tentara Jepang. Beberapa peristiwa diantaranya menyebabkan terbunuhnya sejumlah tentara Jepang dalam perkelahian yang kerap mewarnai insiden tersebut.
Mengatasi keadaan ini, kemudian diadakan pertemuan antara Bupati Simalungun Tuan Maja Purba, seorang kapten tentara Jepang sebagai utusan pihak Jepang, dan para pemimpin pemerintahan Tebing Tinggi yang diwakili oleh Tarip Siregar, Deblot Sundoro, dan Tuan Syekh Beringin. Dalam pertemuan tersebut dilaporkan bahwa pihak Jepang melalui utusannya meminta agar tidak terjadi permusuhan di antara kedua pihak. Dan juga meminta agar seluruh blokade jalan kota Tebing Tinggi dibuka segera.
Menanggapi permintaan pihak Jepang ini, maka pada pagi hari 13 Desember 1945 seluruh blokade jalan yang dibangun sore hari sebelumnya pun dibuka. Atas permintaan dalam pertemuan tersebut juga, maka para pemuda dan laskar yang berjaga di titik strategis kota sejak sore 12 Desember kemudian membubarkan diri. Merasa keadaan telah cukup aman, rakyat pun kembali ke tempat masing-masing.
Namun sekitar pukul 14.30 (13 Desember), pemuda/ rakyat Tebing menyadari bahwa tentara Jepang telah mengepung kota Tebing Tinggi. Dengan senjata lengkap dan sejumlah tank, mereka masuk dan menyusuri kota jalan-jalan kota Tebing Tinggi, dan di warnai dengan suara rentetan senjata dan dentuman meriam.

Seluruh warga kota yang kaget tidak dapat melakukan banyak perlawanan. Juga mengingat pada keterbatasan peralatan senjata yang dimiliki oleh laskar dan pemuda Tebing Tinggi. Dan dari waktu inilah terjadi pembantaian secara membabi buta oleh tentara Jepang terhadap pemuda, laskar, bahkan rakyat sipil kota Tebing Tinggi yang hanya dapat memberi perlawanan dengan bambu runcing saja. Dimulai dari tanggal 13 hingga 16 Desember 1945, tentara Jepang melakukan penembakan bahkan pemenggalan terhadap warga kota, bahkan juga warga di luar kota Tebing Tinggi. Sejumlah pemuda/ rakyat juga ditangkap dan ditawan oleh Jepang di markasnya.
Kemudian pada tanggal 17 Desember 1945 terjadi perundingan antara Residen Sumatera Timur Tengku Hafas dengan pihak Jepang. Dari perundingan ini disepakati perdamaian diantara kedua belah pihak. Namun, meski telah ada kesepakatan damai, pembantaian oleh tentara Jepang ternyata tetap berlanjut, bahkan hingga tanggal 22 Desember 1945.
Sejumlah pemuda/ rakyat yang tertangkap, dengan diikat tangan dan kakinya, dibunuh setiap malam harinya di pinggiran sungai Bahilang dengan cara ditembak atau ditusuk dengan bayonet. Hingga setiap pagi, selalu ditemukan mayat laki-laki di pinggiran sungai tersebut.



 Sumber: http://www.gobatak.com/tragedi-berdarah-13-desember-kota-tebing-tinggi/

Suratan Nasib Membawa Seorang Pemuda Indonesia ke NZ

 New Zealand Embassy - Jakarta, Indonesia:

 
Suratan Nasib Membawa Seorang Pemuda Indonesia ke NZ

Ketika Achmad Fadhiel keluar dari pesawat di Auckland pada tahun 1983, pemuda berusia 18 tahun tersebut telah menyiapkan diri untuk studi di luar negeri selama bertahun-tahun dengan mempelajari, bukan bahasa Inggris, tetapi bahasa Jerman. Setelah rencana awalnya untuk belajar di Jerman gagal, Fadhiel berakhir di Selandia Baru melalui suratan nasib. “Saya telah mendengar tentang negeri ini, tetapi sedang berencana untuk mendaftar ke Kedutaan Besar Austria. Kedutaan Besar Austria tutup hari itu dan Kedutaan Besar Selandia Baru ketika itu terletak di jalan yang sama, Jalan Diponegoro, sehingga saya memutuskan untuk masuk kesana, ‘ ujar Fadhiel. 

Untungnya, dia bercerita bahwa keluarga di mana ia tinggal di Auckland, para teman sekelas dan guru di Northcote College di Pantai Utara Auckland sangatlah suportif dalam membantunya belajar bahasa Inggris. Fadhiel melanjutkan dua tahun SMAnya di Selandia Baru dengan studi empat tahun menuju gelar sarjana S1 dalam bidang Niaga dan Administrasi di  Victoria University of Wellington (VUW). Dalam kurun waktu tersebut, Fadhiel tinggal di Weir House, salah satu penginapan mahasiswa VUW di mana dia menjadi wakil pengelola penginapan yang bertanggung jawab untuk mengawasi para mahasiswa dari seluruh Selandia Baru dan dunia.  
 
Fadhiel berkata bahwa berbagai pengalaman kepemimpinan seperti ini, dan juga sebuah gelar dari dari sebuah universitas luar negeri dan kemampuan bahasa Inggris, telah memberikannya sebuah daya saing dalam karirnya dalam bidang keuangan dan sektor riil di Indonesia. Sejak dia kembali ke Indonesia pada tahun 1989, ia telah bekerja dan memegang berbagai posisi manajemen senior dalam bidang perbankan, termasuk ABNAMRO Bank, Citigroup Indonesia, Bank Bumiputera dan Bank Dunia. Ia sekarang adalah Direktur Keuangan dari Grup BUMN Pupuk Indonesia dan menjadi komisaris dari berbagai perusahaan di Malaysia dan Iran. 
 
Fadhiel dan keluarganya masih mengunjungi Selandia Baru secara rutin dan tahun lalu mereka memutuskan untuk mengirim anak laki-laki berusia 17 tahun mereka untuk belajar di Auckland Boys’ Grammar. “Saya katakana ke anak saya bahwa kawasan ini sedang menyatu – Selandia Baru, Australia, ASEAN dan Asia lainnya. Selandia Baru memiliki potensi yang sangat besar untuk memainkan sebuah peran penting di ASEAN dalam hal perdagangan, teknologi pertanian, energi panas bumi, teknologi informasi, pendidikan dan pariwisata dan oleh karenanya sangatlah penting bahwa kita mempelajari keunggulan masing-masing untuk memupuk sebuah pemahaman dan hubungan yang lebih baik.  
 


When Achmad Fadhiel stepped off a plane in Auckland in 1983, the eighteen year old had been preparing to study abroad for years by learning, not English, but German. After his original plan to study in Germany fell through, Fadhiel ended up in New Zealand through a twist of fate. “I had heard of the country, but was planning to apply to the Austrian Embassy. It was closed that day and the New Zealand Embassy was then on the same street Jalan Diponegoro  so I decided to go in,” Fadhiel says.
 
Luckily, he says his host family, classmates and teachers at Northcote College on Auckland’s North Shore were extremely supportive in helping him learn English. Fadhiel followed up his two years of high school in New Zealand with four years studying towards a Bachelor of Commerce and Administration (BCA) at Victoria University of Wellington. During this time, Fadhiel lived in Weir House, one of VUW’s student hostels where he became a deputy warden responsible for looking out for students from around New Zealand and the world.
 
Fadhiel says leadership experiences such as this, as well a degree from an overseas university and his command of the English language, have given him an edge in his career in finance and real sector in Indonesia. Since he moved back in 1989 he has worked and held senior management positions in banking, including at ABNAMRO Bank, Citigroup Indonesia, Bank Bumiputera and the World Bank. He is currently the Group Financial Director of state owned fertilizer company Pupuk Indonesia Holding Company and sits on the board of companies in Malaysia and Iran.
 
Fadhiel and his family still visit New Zealand regularly and last year they made the decision to send their seventeen-year-old son Irfan to study at Auckland Boys’ Grammar. “I tell my son the region is becoming one – New Zealand, Australia, ASEAN and the rest of Asia. New Zealand has huge potential for playing a major role in ASEAN in terms of trade, agriculture technology, geothermal energy, information technology, education and tourism and so it is very important that we learn each other competitiveness to foster a better understanding and good relationship.”

Photo credit: the Pupuk Iskandar Muda website

 

Koleksi Foto Kronologi


Suratan Nasib Membawa Seorang Pemuda Indonesia ke NZ

Ketika Achmad Fadhiel keluar dari pesawat di Auckland pada tahun 1983, pemuda berusia 18 tahun tersebut telah menyiapkan diri untuk studi di luar negeri selama bertahun-tahun dengan mempelajari, bukan bahasa Inggris, tetapi bahasa Jerman. Setelah rencana awalnya untuk belajar di Jerman gagal, Fadhiel berakhir di Selandia Baru melalui suratan nasib. “Saya telah mendengar tentang negeri ini, tetapi sedang berencana untuk mendaftar ke Kedutaan Besar Austria. Kedutaan Besar Austria tutup hari itu dan Kedutaan Besar Selandia Baru ketika itu terletak di jalan yang sama, Jalan Diponegoro, sehingga saya memutuskan untuk masuk kesana, ‘ ujar Fadhiel.

Untungnya, dia bercerita bahwa keluarga di mana ia tinggal di Auckland, para teman sekelas dan guru di Northcote College di Pantai Utara Auckland sangatlah suportif dalam membantunya belajar bahasa Inggris. Fadhiel melanjutkan dua tahun SMAnya di Selandia Baru dengan studi empat tahun menuju gelar sarjana S1 dalam bidang Niaga dan Administrasi di Victoria University of Wellington (VUW). Dalam kurun waktu tersebut, Fadhiel tinggal di Weir House, salah satu penginapan mahasiswa VUW di mana dia menjadi wakil pengelola penginapan yang bertanggung jawab untuk mengawasi para mahasiswa dari seluruh Selandia Baru dan dunia.

Fadhiel berkata bahwa berbagai pengalaman kepemimpinan seperti ini, dan juga sebuah gelar dari dari sebuah universitas luar negeri dan kemampuan bahasa Inggris, telah memberikannya sebuah daya saing dalam karirnya dalam bidang keuangan dan sektor riil di Indonesia. Sejak dia kembali ke Indonesia pada tahun 1989, ia telah bekerja dan memegang berbagai posisi manajemen senior dalam bidang perbankan, termasuk ABNAMRO Bank, Citigroup Indonesia, Bank Bumiputera dan Bank Dunia. Ia sekarang adalah Direktur Keuangan dari Grup BUMN Pupuk Indonesia dan menjadi komisaris dari berbagai perusahaan di Malaysia dan Iran.

Fadhiel dan keluarganya masih mengunjungi Selandia Baru secara rutin dan tahun lalu mereka memutuskan untuk mengirim anak laki-laki berusia 17 tahun mereka untuk belajar di Auckland Boys’ Grammar. “Saya katakana ke anak saya bahwa kawasan ini sedang menyatu – Selandia Baru, Australia, ASEAN dan Asia lainnya. Selandia Baru memiliki potensi yang sangat besar untuk memainkan sebuah peran penting di ASEAN dalam hal perdagangan, teknologi pertanian, energi panas bumi, teknologi informasi, pendidikan dan pariwisata dan oleh karenanya sangatlah penting bahwa kita mempelajari keunggulan masing-masing untuk memupuk sebuah pemahaman dan hubungan yang lebih baik.



When Achmad Fadhiel stepped off a plane in Auckland in 1983, the eighteen year old had been preparing to study abroad for years by learning, not English, but German. After his original plan to study in Germany fell through, Fadhiel ended up in New Zealand through a twist of fate. “I had heard of the country, but was planning to apply to the Austrian Embassy. It was closed that day and the New Zealand Embassy was then on the same street Jalan Diponegoro so I decided to go in,” Fadhiel says.

Luckily, he says his host family, classmates and teachers at Northcote College on Auckland’s North Shore were extremely supportive in helping him learn English. Fadhiel followed up his two years of high school in New Zealand with four years studying towards a Bachelor of Commerce and Administration (BCA) at Victoria University of Wellington. During this time, Fadhiel lived in Weir House, one of VUW’s student hostels where he became a deputy warden responsible for looking out for students from around New Zealand and the world.

Fadhiel says leadership experiences such as this, as well a degree from an overseas university and his command of the English language, have given him an edge in his career in finance and real sector in Indonesia. Since he moved back in 1989 he has worked and held senior management positions in banking, including at ABNAMRO Bank, Citigroup Indonesia, Bank Bumiputera and the World Bank. He is currently the Group Financial Director of state owned fertilizer company Pupuk Indonesia Holding Company and sits on the board of companies in Malaysia and Iran.

Fadhiel and his family still visit New Zealand regularly and last year they made the decision to send their seventeen-year-old son Irfan to study at Auckland Boys’ Grammar. “I tell my son the region is becoming one – New Zealand, Australia, ASEAN and the rest of Asia. New Zealand has huge potential for playing a major role in ASEAN in terms of trade, agriculture technology, geothermal energy, information technology, education and tourism and so it is very important that we learn each other competitiveness to foster a better understanding and good relationship.”

Photo credit: the Pupuk Iskandar Muda website
 
 https://www.facebook.com/nzembassyindonesia

Google creates €60m Digital Publishing Innovation Fund to support transformative French digital publishing initiatives

Google has worked with news publishers around the globe for years to help them make the most of the web. Our search engine generates billions of clicks each month, and our advertising solutions (in which we have invested billions of dollars) help them make money from that traffic. And last year, we launched Google Play, which offers new opportunities for publishers to make money—including through paid subscriptions. A healthy news industry is important for Google and our partners, and it is essential to a free society.

Today I announced with President Hollande of France two new initiatives to help stimulate innovation and increase revenues for French publishers. First, Google has agreed to create a €60 million Digital Publishing Innovation Fund to help support transformative digital publishing initiatives for French readers. Second, Google will deepen our partnership with French publishers to help increase their online revenues using our advertising technology.

This exciting announcement builds on the commitments we made in 2011 to increase our investment in France—including our Cultural Institute in Paris to help preserve amazing cultural treasures such as the Dead Sea Scrolls. These agreements show that through business and technology partnerships we can help stimulate digital innovation for the benefit of consumers, our partners and the wider web.

MINI takes a look back over the most successful year in the brand’s history


The John Cooper Works Family (09/2012).  
 

MINI takes a look back over the most successful year in the brand’s history.
Munich/Oxford. The British premium small car manufacturer MINI can look back on an eventful year marked by new sales records, successful model launches and expansion into new markets worldwide. 2012 once again served up a wealth of highlights for brand aficionados, as well as being the most successful year to date for MINI. Not only has the vehicle line-up been extended to seven models, meaning more choice than ever, but MINI is now represented in over 100 markets around the globe for the very first time. Worldwide sales of the MINI brand totalled 301,526 units last year, more than in any previous 12-month period. The MINI review of 2012 summarises the year’s most important, most extraordinary and most astonishing events.

January: MINI kicked off the year with yet another first when the British carmaker showcased its model range at the Auto Expo in the Indian capital of New Delhi for the very first time. This coincided with the opening in New Delhi und Mumbai of MINI’s first showrooms on the subcontinent. This made India the 100th market in which MINI is active. There is obviously a huge appetite for premium small cars there too, with 50,000 fans registering on MINI India’s Facebook page in the space of just a few weeks. In Europe, the year commenced with the introduction of two special-edition models, the MINI Baker Street and MINI Bayswater, whose exclusive design and equipment features have injected some contemporary London style into the streetscape.

February: The launch of the MINI Roadster extended the brand’s line-up to six models. The first open-top two-seater from the British carmaker radiates an aura of puristic sportiness. The manually operated soft-top roof, steeply raked windscreen, low centre of gravity that has been weighted forwards, and an automatically extending rear spoiler allow driving pleasure to be experienced at its most intense. The MINI Roadster range boasts a choice of four particularly feisty engines and is spearheaded by the MINI John Cooper Works Roadster with 155 kW/211 hp – never before have MINI drivers been able to feel such a vigorous rush of wind through their hair. The MINI brand reinforced its presence in the Middle East sales region with its market entry into the Kingdom of Jordan. The MINI showroom in the heart of the capital Amman presented customers with a choice of the entire MINI range from day one.

March: The MINI John Cooper Works Countryman received its world premiere at the Geneva Motor Show. It is the first John Cooper Works model to direct the power from its engine to all four wheels. Developed with the aid of motor racing knowhow, the turbocharged engine comes in its most powerful 160 kW/218 hp version and teams up with the standard ALL4 all-wheel-drive system to guarantee tremendous fun at the wheel over any terrain. The list of standard equipment also includes sports suspension, 18-inch alloy wheels, a sports exhaust system, as well as an aerodynamics kit. The MINI John Cooper Works Countryman can also be specified with an optional six-speed automatic transmission. Meanwhile, the introduction of the MINI Highgate Convertible brought some real style to bear in the world of open-top motoring. The new special-edition model fuses exclusive flair and individuality with a generous dose of Brit-cool.

April: Individuality was very much the focal point of MINI’s show stand at the Auto China in Beijing, where the MINI Clubman Hyde Park celebrated its world premiere. There was also a debut for the MINI’s forefather, with five classic Mini cars taking part in the Allgäu-Orient Rally for the first time. This alternative race for classic cars and recent classics sets off from the village of Oberstaufen in Bavaria before heading for the Azerbaijani capital of Baku, over 5,000 kilometres (3,100 miles) away. MINI also took the opportunity to join in congratulating the international language of Esperanto on reaching a special milestone:

125 years ago it began to take the world by storm, eventually becoming a cultural asset that is fondly cherished in over 100 countries – very much in the mould of the MINI.

May: The former F1 circuit in Le Castellet, France was the place to be for the global MINI Community when it hosted MINI United 2012. Some 30,000 delighted MINI enthusiasts were able to revel in three days of top international music acts, motor racing action and a throbbing party atmosphere, all themed around the MINI. The stage buzzed to the sound of live performances from bands such as Iggy and the Stooges and Gossip. The same month saw MINI supporting the Life Ball in Vienna, Europe’s biggest charity event, for the 12th time. The Life Ball combines a fashion show with doing some good for society. MINI continued its tradition of donating for auction a vehicle specially designed for the occasion, the proceeds of which go to projects that have been set up to combat HIV and AIDS. Over 4,000 classic Mini fans descended on Lake Balaton in Hungary, meanwhile, for the International Mini Meeting, the largest gathering in the classic Mini Club calendar.
June: MINI unveiled yet another new model, this time one that had been designed with special transport tasks in mind. The MINI Clubvan combines all the practical strengths of a compact delivery van with the driving fun for which the brand is renowned along with highly distinctive looks. It comes with two seats and 860 litres of load space, which owners can easily make the most of thanks to the split door at the rear. Not only is the first premium vehicle of its kind highly versatile, it also makes an ideal mobile calling card for tradespeople who are anxious to create a stylish impression when delivering goods to their customers. The trade publication “Automobilwoche” awarded its top rating of “Triple A” (Automobilwoche Award Autohandel) to the MINI sales force in Germany. In a study into the professionalism of personnel in car dealerships, MINI salespeople emerged as the best source of advice for potential customers amongst the premium brands.

July: London calling – yet more highly alluring special-edition models were brought out in the guise of the MINI Hyde Park and MINI Green Park, which celebrate the British way of life with far more than just their names. Their exclusive colour scheme and classy appointments fuse extravagance with understatement to superb effect. In the United States, MINI extended an invitation to take part in a unique coast-to-coast rally with the slogan MINI TAKES THE STATES: the MINI Community set out for Los Angeles from New York on 4 July, Independence Day.

August: The brand’s sporty streak was on show once again at the opening of the Moscow International Automobile Salon, with a stand that centred around the new John Cooper Works models.

September: The seventh model in the brand’s line-up, the MINI Paceman, made its world debut at the Paris Motor Show. With two doors and a large tailgate, powerful proportions, flowing coupé-like lines, plus a lounge-style interior featuring two individual seats in the rear, this is the first Sports Activity Coupé in the premium compact segment. The MINI Paceman can be equipped with the ALL4 all-wheel-drive system as an option. The fastest MINI ever built blasted onto the scene as the second crowd-puller at the Mondial de l’Automobile – but not for long. The MINI John Cooper Works GP is being built in a limited run of just 2,000 units for racing enthusiasts all over the world. Awaiting them is a scintillating and exclusive sports machine featuring a 160 kW/218 hp turbocharged four-cylinder power unit, adjustable coilover suspension, an ultra-powerful sports braking system, Driving Stability Control with GP race mode and precisely honed aerodynamic measures, along with model-specific alloy wheels and sports tyres. The MINI John Cooper Works GP was fine-tuned on the Nürburgring’s legendary Nordschleife circuit, where it recorded a best time of 8:23 minutes.

This same month, the classic Mini scooped a great accolade in its home country when, 53 years after it first went into production, readers of the UK car magazine “Autocar” voted it the “Greatest British car ever made”. And nowhere are the sheer thrill of this British classic and its phenomenal go-kart feel more apparent than on the BMW Group’s test track in Aschheim near Munich, where the classic Mini driver training courses are held.

October: MINI sought and found 25 test drivers from the Munich area for the brand’s first-ever all-electric car. For five months, the testers taking part in the latest field trials will drive the MINI E under everyday conditions; their impressions and experiences will subsequently be incorporated into the scientific analyses of both user behaviour and the infrastructure requirements for electric vehicles.

November: An intense racing sensation with fewer refuelling stops – a transformation is taking place under the bonnet of the John Cooper Works models. The latest incarnation of the turbocharged engine with motor racing breeding now goes about its business even more efficiently. The 155 kW/211 hp four-cylinder unit’s twin-scroll turbocharging and direct petrol injection technology is now supplemented by variable valve timing, which enhances both engine responsiveness and fuel efficiency. The MINI Paceman received its US premiere at the Los Angeles Auto Show, where new paint finishes and detailed interior styling modifications for the MINI Countryman were also revealed. The MINI One Countryman and MINI Cooper Countryman models now meet the EU6 emissions limits as standard. In London, highly creative use of space resulted in not one but two entries in the Guinness Book of Records: on the same day that 28 female gymnasts managed to squeeze into a MINI, 23 members of the same gymnastics team from East Sussex succeeded in cramming themselves into a classic Mini, setting another world record.

December: This time it was the turn of MINI to set a new personal best, with annual vehicle sales topping the 300,000 mark for the first time. To be exact, worldwide MINI deliveries up to the end of the year totalled a record-breaking 301,526, meaning that the brand’s sales were up by 5.9 per cent compared to 2011. Sales were once again strongest in the USA, followed by MINI’s home country, the UK, and Germany. The forecasts for 2013 similarly make for positive reading. The MINI Paceman is due to be launched in March, while the brand also plans to move into more new markets. Central America provides the latest evidence of MINI’s successful expansion. The new age predicted by an ancient Mayan calendar dawned there just a few days before Christmas – with absolutely no sign of the end of the world, but with plenty of good omens for the MINI brand.

For any queries, please contact:
Corporate Communications
Andreas Lampka, Head of Communications MINI
Telephone: +49 89-382-23662, Fax: +49 89-382-20626
E-Mail: andreas.lampka@mini.com
Internet: www.press.bmwgroup.com

The BMW Group
The BMW Group is one of the most successful manufacturers of automobiles and motorcycles in the world with its BMW, MINI, Husqvarna Motorcycles and Rolls-Royce brands. As a global company, the BMW Group operates 29 production and assembly facilities in 14 countries and has a global sales network in more than 140 countries.

In 2011, the BMW Group sold about 1.67 million cars and more than 113,000 motorcycles worldwide. The profit before tax for the financial year 2011 was euro 7.38 billion on revenues amounting to euro 68.82 billion. At 31 December 2011, the BMW Group had a workforce of approximately 100,000 employees.

The success of the BMW Group has always been built on long-term thinking and responsible action. The company has therefore established ecological and social sustainability throughout the value chain, comprehensive product responsibility and a clear commitment to conserving resources as an integral part of its strategy. As a result of its efforts, the BMW Group has been ranked industry leader in the Dow Jones Sustainability Indexes for the last eight years.

www.bmwgroup.com
Facebook: http://www.facebook.com/BMWGroup
Twitter: http://twitter.com/BMWGroup
YouTube: http://www.youtube.com/BMWGroupview
Google: http://googleplus.bmwgroup.com

MANTRA DISAYANG ISTRI


  • Mahyudin Al Mudra Teteh Ayunda Nunnun Sugiharti Koesoemah belum tahu ya kalo dokter gigi itu tidak bisa mengobati/mencabut giginya sendiri? Tukang cukur rambut juga gak bisa menggunting rambutnya sendiri. Hehehe... Btw, kalo suami sudah membaca mantra agar selalu disayang istri, itu artinya dia takut kehilangan istri. Jadi gak perlu lagi baca mantra agar disayang suami. Nanti malah crash, gak manjur lagi. .
  • Yu Ratna cari istri, bang Mahyudin Al Mudra... yg terlanjur sayang...
  • Mahyudin Al Mudra Ada mantra buat cari istri gak, Yu?
  • Yu Ratna Ni tak tanyakan mbah Gugel, bang MAM
    Inilah mantra yang dibaca: Bismillaahir rahmaanir rahiim Yang anta mata anna serasa serahasia kita tidak berbeda hai …….(sebut namanya) datangi aku siya berkat laa ilaaha illallaah Muhammadar rasuulullah.
    Cara mengamalkannya puasa 3 hari tiga malam sambil membaca mantra tersebut, sambil jangan lupa sembayang lima waktu pada saat berpuasa tersebut, pantangannya, apa yang dilarang oleh agama.
    catatan janganlah disalah gunakan ilmu ini dan kalau tidak bersungguh sungguh ingin nikah sebaiknyak jangan menggunakannya.
  • Mahyudin Al Mudra Ha ha ha ha.... Wk wk wk Xi xi xi....
  • Yu Ratna mau coba yang lain...???
    Ilmu yang satu ini sdh seringkali di praktekin oleh kalangan paranormal ngetop ditanah air, kalo ada yang mau coba selamat mencoba aja dech…
    Siapkan beras ketan hitam sebanyak 1 genggam, terus baca mantra dibawah ini kemudian d
    itaburkan ditampat yang dilewati orong yang dituju.
    “Owah gingsir sifating urip, kang owah mung katresnanku manjing dadi sawiji sajiwo lan sarogo, kalayan jiwo rogone si……. (sebutkan nama orangnya) anak turune kanjeng nabi adam, ora pisah salawase gesang”.
    Mantra ini dibaca 11x dilakukan 3x berturut turut selama 3hari...
  • Mahyudin Al Mudra Wah.. Wah... Yu Ratna ternyata ahli dlm dunia permantraan. Perlu berguru nih. Tp gimana kalo si dia jg baca mantra penangkal matra kita, Yu?
  • Taufik Arbain ini pernah pang dilajari arwaah kai mantaranya tambahi salawat pulang imbahnya hahaaa

Jumat, 01 Februari 2013

RS.NUR HIDAYAH Yogyakarta akan memberikan Layanan Operasi GRATIS pada bulan MARET 2013

OPERASI GRATIS

Mohon Infokan ke Tetangga-Kerabat-Rekan yang Punya anak Cacat Bawaan Lahir.

Diumumkan bahwa RS.NUR HIDAYAH Yogyakarta akan memberikan Layanan Operasi GRATIS pada bulan MARET 2013.

Yang dioperasi adalah Kasus-kasus :
- Bibir Sumbing
- Hernia (Tedun)
- Hipospadia (Lubang Kencing Tidak pada ujung kelamin)
- Atresia Ani (Tidak memiliki Anus/dubur)
- Polidaktili (Kelebihan Jumlah Jari)
- Sindaktili (Jari Dempet)
- Undesensus Testis (Biji kemaluan cuma 1 atau Tidak ada sama sekali)
- Alat Kelamin Tidak Sempurna
- dll.

SEGERA Daftarkan ke
RS.NUR HIDAYAH
Telepon :
0274-7472941-2 (jam kerja) :
Arlina/Ratna/Ery

atau Datang Langsung ke Bagian Pendaftaran :
RS.NUR HIDAYAH
JL.Imogiri Timur Km.11,5 Trimulyo Jetis Bantul - Yogyakarta

Pendaftaran Ditunggu sampai awal Maret.

Syarat-Syarat yg Harus Dipenuhi :
1). Umur Maksimal 12 thn
2). Foto Copy (FC) KTP Orangtua
3). FC KK
4). FC Akte Kelahiran (Surat Lahir)
5). FC Rek.Listrik 3 bln Terakhir
6). SK Tdk Mampu dari Kelurahan
7). Pas Foto Anak & Kondisi Rumah.

Mohon Bantu Sebarkan - Terima Ka