Rabu, 19 Oktober 2016

Perkiraan studi terbaru: 100.300 kematian selama kebakaran hutan Indonesia 2015

Jakarta, LIPUTANSATUHasil studi terbaru yang mengejutkan dari Universitas Harvard dan Universitas Columbia memperkirakan 100.300 kasus kematian dini akibat krisis kebakaran yang menghancurkan hutan Indonesia tahun lalu, 91.600 diantaranya terjadi di Indonesia [1]. Perkiraan ini sangat jauh di atas pernyataan resmi pemerintah Indonesia tahun lalu yang menyebutkan 19 orang meninggal karena asap. [2] Penelitian yang diumumkan hari ini menggunakan metode pembacaan polusi udara dan data satelit untuk menghitung paparan asap kebakaran hutan. Studi ini juga melaporkan perkiraan kasus kematian dini di Singapura mencapai 2.200, dan 6.500 di Malaysia.
 
Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Yuyun Indradi mengatakan:
"Lebih dari seratus ribu kematian dini diperkirakan terjadi tahun lalu. Dan sekarang kebakaran hutan kembali terjadi. Jika tidak ada perbaikan, asap yang mematikan ini akan menyebabkan angka kematian yang lebih mengerikan dari tahun ke tahun. Pemerintah dan industri harus mengambil tindakan nyata untuk menghentikan pembukaan hutan dan pengeringan gambut untuk perkebunan.”
“Saat amukan kebakaran tahun lalu, pemerintah Indonesia mengakui 43 juta orang terpapar kabut asap di seluruh Indonesia dan setengah juta di antaranya menderita penyakit pernafasan. Sekarang kita tahu besaran korban meninggal, kegagalan bertindak cepat untuk membendung hilangnya kehidupan adalah sebuah kejahatan.”
Selain kebakaran tahun 2015, tim independen yang terdiri dari 12 orang ilmuwan yang ahli di bidang kesehatan masyarakat dan atmospheric modelling juga meneliti kebakaran hutan buruk lainnya di tahun 2006. Selama periode Juli-Oktober 2006, mereka menemukan perkiraan kasus kematian dini sebanyak 37.600 jiwa, 34.600 di antaranya di Indonesia, 2.300 di Malaysia dan 700 di Singapura. Terbakarnya perkebunan konsesi kelapa sawit dan bubur kertas pada tahun 2006 tercatat menyumbang emisi  sekitar 40% di Sumatera dan sekitar 25% di Kalimantan.
Kebakaran di lahan gambut yang dikeringkan untuk perkebunan adalah penyumbang terbesar asap yang mematikan di kawasan regional, api yang membara dalam hitungan hari dan minggu bisa tiga hingga enam kali lebih banyak partikel asapnya dibandingkan dengan kebakaran di jenis tanah lainnya. [3] Laporan terbaru ini menemukan bahwa kebakaran di lahan gambut menyumbang 72% dari emisi yang dilepaskan dari kebakaran di Sumatera dan 43% di Kalimantan sebagaimana terekam satelit pada tahun 2015. Greenpeace dan LSM lainnya telah lama mendesak perlindungan menyeluruh terhadap hutan dan gambut guna mencegah kebakaran.
Kerugian terhadap kesehatan manusia yang dihitung dalam laporan ini merupakan perkiraan konservatif,  dampak sebenarnya bisa lebih besar lagi karena studi ini tidak memasukkan dampak kesehatan atas kandungan racun lainnya yang terbentuk pada asap seperti karbon monoksida, formaldehyde, hydrogen cyanide, arsenic dan lainnya. [4] Penelitian ini hanya menghitung jumlah kematian orang dewasa karena menghirup partikel asap yang dikenal sebagai PM2.5 dalam konsentrasi tinggi. Dengan ukuran 2.5 mikrometer atau lebih kecil, partikel yang sangat kecil ini dapat terhirup dan terserap ke aliran darah. Partikel ini dikenal sebagai penyebab kematian akibat dampaknya pada paru-paru, jantung dan penyakit peredaran darah lainnya termasuk asma, serangan jantung dan stroke. [5] Penelitian ini tidak mencakup tingkat bahaya partikel jika terhirup oleh anak-anak, meskipun laporan ini mencatat bahwa dampak terhadap anak-anak cenderung signifikan.”
Sementara itu Dr Nursyam Ibrahim, Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Kalimantan Barat mengatakan bahwa selama berlangsungnya kebakaran hutan dan gambut, terjadi peningkatan secara masif kasus penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan.
“Dampak paling besar dari terhirupnya partikel debu yang terbawa bersama asap dari kebakaran hutan gambut dirasakan oleh kelompok rentan seperti orang tua/lansia, ibu hamil, terutama bayi dan balita,” kata Nursyam.
“Kami, IDI Wilayah Kalbar meminta semua pihak bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran khususnya gambut, karena yang dipertaruhkan adalah penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Kamilah para dokter yang merawat kelompok rentan yang terpapar asap beracun tersebut di semua sentra pelayanan kesehatan dan betapa menakutkan melihat gejala penyakit yang dialami bayi dan balita saat merawat mereka,” tambahnya
Yuyun menambahkan:
“Teknik modelling yang didukung dengan pemetaan real time untuk mengetahui tingkat risiko kematian dari Universitas Harvard dan Universitas Columbia ini sangat bermanfaat  bagi masyarakat Indonesia. Ini merupakan  terobosan baru yang menunjukkan pusat-pusat populasi yang terdampak asap hingga luas cakupan 50 hektar . Kita bisa menggunakannya  untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan-perusahaan yang terlibat serta mengirim petugas kebakaran hutan yang terbatas jumlahnya untuk memadamkan api di tempat yang paling berbahaya, hal ini akan menyelamatkan nyawa manusia lebih cepat dan lebih banyak lagi.”
“Pekan depan, Komisi Informasi Pusat di Jakarta akan menyampaikan sebuah keputusan penting, saya berharap mereka mengabulkan permohonan  Greenpeace untuk mendapatkan peta konsesi perkebunan dalam format data digital shapefile, yang mempermudah penerapan  teknik baru ini untuk penanggulangan bencana asap. Ini saatnya  bagi Indonesia untuk menyelamatkan ribuan nyawa dari bencana melalui  tangan tiga komisioner KIP dan keputusan mereka pada Minggu depan.” [e]

Catatan untuk editor:

[1] Perlu dicatat bahwa Greenpeace tidak terlibat dan terkait apa pun dengan penelitian ini, kami hanya diberi salinannya. Laporan ini dipublikasikan setelah waktu embargo di atas oleh Jurnal Environmental Research Letters (ERL) dengan judul “Dampak Kesehatan Masyarakat akibat Asap di  Ekuatorial Asia pada September - Oktober 2015: demonstrasi kerangka baru untuk menginformasikan pengelolaan strategis dalam mengurangi paparan asap menurut arah angin.” Kutipan sebagaimana Koplitz et al 2016 Environ. Res. Lett. 11 094023  Doi: 10.1088/1748-9326/11/9/094023 dan akan dipublikasikan secara online di sini:http://iopscience.iop.org/article/10.1088/1748-9326/11/9/094023
[4] Sebagai contoh, ketika Center for International Forestry Research (CIFOR) mengukur tingkat karbon monoksida di Kalimantan Tengah pertengahan Oktober 2015, tingkatnya 30 kali lipat lebih tinggi dari normal, walaupun dalam ruangan dan 30 kilometer jauhnya dari titik api terdekat. Rajasekhar Balasubramanian bersama koleganya di National University of Singapore(NUS) dalam studi 2013, menemukan udara di Singapura selama periode asap kebakaran hutan mengandung arsenik, chromium, cadmium dan elemen karsinogenik lainnya. Mereka memperkirakan bahwa jika asap terjadi sepuluh hari setiap tahun dan berlangsung selama 70 tahun di Singapura, maka kemungkinan angka kasus kanker akan meningkat mendekati setengahnya.
[5] Riset Universitas Edinburgh telah menunjukkan meski paparan jangka pendek terhadap polutan udara meningkatkan risiko kesehatan atau kematian dari stroke dalam tujuh hari berikutnya dan efek samping terkuat terlihat pada waktu yang sama saat terpapar partikel PM2.5. http://www.ed.ac.uk/news/2015/pollutionstroke-260315.
[6] Latar belakang sengketa informasi Greenpeace Indonesia bisa dilihat dihttp://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/riau-terbakar-lagi-greenpeace-mengambil-langk/blog/56862/



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Greenpeace Indonesia <indonesia@act.greenpeace.org>
Tanggal: 22 September 2016 10.43
Subjek: 100.300 kematian dini selama kebakaran hutan Indonesia 2015
Kepada: yayasanps@gmail.com
2,9 GB (19%) dari kuota 15 GB telah digunakan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar