Senin, 03 November 2014

Pilihan Ekonomi yang dihadapi Presiden Baru

No                   : 127/AJIJAK/X/2014
Lampiran          : TOR Kegiatan
Perihal              : Undangan Diskusi Publik “Pilihan Ekonomi  yang dihadapi Presiden Baru”
 
 
Kepada Yth
Koordinator Liputan
Media Massa
Di Jakarta
 
 
Dengan hormat,
 
Bersama surat ini kami Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan Pusat Transformasi Kebijakan Publik mengundang Bapak/Ibu jurnalis untuk mengikuti dan meliput diskusi public bertajuk “Pilihan Ekonomi yang dihadapi Presiden Baru”, pada :
 
Hari/ Tanggal               : Rabu, 5 November 2014
Pukul                           : 11.00  WIB – Selesai (diawali Makan Siang)
Tempat                        : Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Cikini 10330 , Jakarta
Pembicara                   : Gustav Papanek 

Kami berharap Bapak/Ibu dapat menjadi bagian acara kami. Panitia menyediakan buku Pilihan Ekonomi  yang dihadapi Presiden Baru bagi30 peserta pertama.
 
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sdri.Annisa Yusyda di 021 7984105, email ajijak@cbn.net.id.
 
Demikian undangan ini kami sampaikan. Ata skehadirannya kami mengucapkan terima kasih.
 
Jakarta, 3 November 2014
Salam,
 
Umar Idris
Ketua
 
 
 
Term Of Reference
Diskusi Buku
Pilihan Ekonomi Yang Dihadapi Presiden Baru

A.Latar Belakang

Pemerintahan baru sudah terbentuk. Kabinet kerja yang dibentuk oleh Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah mulai bekerja untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hingga 7 %. Professor of Economics, Emeritus & President Boston Institute for Developing Economies Gustav Papanek dalam bukunya Pilihan Ekonomi Yang Dihadapi Presiden Baru mengatakan Indonesia berpeluang sekali seumur hidup untuk meningkatkan taraf hidup seluruh masyarakatnya dengan cara: pertama,  mencapai pertumbuhan pendapatan nasional sebesar 10 % dan, kedua, menciptakan 21 juta pekerjaan yang layak dan produktif pada masa jabatan presiden terpilih dalam lima tahun kedepan.

Paling tidak menurut Gustav Papanek ada dua fakta yang  berkontribusi dalam menciptakan peluang ini:
Pertama, Tiongkok mengekspor produk barang jadi senilai 1,500 miliar dollar Amerika Serikat (AS) dari industry padat karya, seperti suku cadang mobil, produk elektrikal dan elektronik, garmen, tekstil, sepatu, dan mainan. Namun, Tiongkok tidak lagi kompetitif dalam memproduksi barang-barang semacam itu. Angkatan kerjanya menyusut dan menua, upahnya semakin tinggi, begitu pula dengan biaya tenaga kerja lainnya. Negara-negara lain sedang berkompetisi untuk memproduksi barang-barang tersebut.

Kedua.  Indonesia memiliki sekitar 20 juta surplus pekerja dalam sector pertanian dan informal, namun hanya berkontribusi sedikit terhadap output.
Mereka seringkali bekerja sehari penuh sebagai penyemir sepatu, pengemudi becak, pekerja pertanian di lahan keluarga, dan pendaurulang kertas bekas.Mereka melakukan pekerjaan yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh lebih sedikit pekerja, tapi dengan output setara.

Pekerja tambahan disempalkan, dengan berbagi macam pekerjaan dan penghasilan, karena mereka tidak mendapatkan pekerjaan di sektor formal, dan mereka harus memiliki penghasilan untuk bertahan hidup. Jika mereka dapat menemukan pekerjaan yang layak dan produktif, kontribusi mereka terhadap pendapatan nasional akan meningkat.

Dengan demikian, penghasilan mereka juga akan meningkat seiring peningkatan pendapatan nasional. Satu-satunya kegiatan yang dapat menghasilkan pekerjaan yang produktif bagi jutaan pekerja surplus adalah ekspor barang jadi padat karya.
Ketika insentifnya tepat, pertumbuhan pada sebagian besar ekspor barang jadi  padat karya Indonesia akan mencapai hampir dua kali lipat dari 22 persen yang harus dicapai dalam lima tahun kedepan.

Setelah dua devaluasi pada tahun 1986/87 membuat barang Indonesia sangat kompetitif, dan berbagai kebijakan lain terus mengurangi biaya, Indonesia menjadi juara dalam hal ekspor barang jadi. Indonesia mengalahkan negara lain di Asia, termasuk Tiongkok.

Diskusi yang akan diadakan Aliansi Jurnalis Independen Jakarta dan Pusat Transformasi Kebijakan Publik ini akan membicarakan paket-paket kebijakan apa saja yang harus ditempuh oleh pemerintahan baru Jokowi –Jusuf Kalla untuk bisa mencapai  pertumbuhan pendapatan nasional sebesar 10 % dan, kedua, menciptakan 21 juta pekerjaan yang layak dan produktif pada masa jabatan presiden terpilih dalam lima tahun kedepan.
B. Tujuan

Mensosialisasikan gagasan besar  tentang peluang yang mungkin bisa dicapai Indonesia dalam masa pemerintahan presiden baru Joko Widodo dan paket-paket kebijakan yang perlu diambil untuk mencapai sasaran tersebut.

C. Pelaksanaan

Hari/ Tanggal                : Rabu, 5 November 2014
Pukul                            : 11.00  WIB - Selesai
Tempat                         : Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Cikini 10330 , Jakarta
Pembicara                    : Gustav Papanek 

D. Target Peserta
Jumlah peserta 30 Orang yang terdiri dari Wartawan , Pemerhati dan Mahasiswa

E. Penutup
Demikian kerangka acuan ini dibuat untuk menjadi panduan pelaksanaan diskusi. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi panitia di Sekretariat AJI Jakarta 021 7984105.
 
 
-------------------------------------------
AJI Jakarta
Jl. Kalibata Timur IVG No.10
Kalibata, Jakarta Selatan 12740
Telp./Faks. (021) 798 4105
t: @AJI_JAKARTA
-------------------------------------------
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar